KUCHING, SARAWAK

Kali ini saya mau cerita tentang perjalananku ke Kuching, Sarawak, Malaysia yang sepulau dengan Kalimantan, Indonesia. Dimulai dengan keberangkatanku dari bandara internasional Jakarta Soekarno Hatta, Selasa 14 April 2009. Kami – saya sekeluarga lepas landas jam 18.55 dan tiba 21.35. Jakarta dan Kuching punya perbedaan waktu 1 jam. Cukup malam bukan untuk masuk negeri lain?

Karena tujuan utama ke Kuching adalah periksa kesehatan orang tua di Rumah Sakit Timberland, Lot 5164-5165, Block 16, KCLD, Lorong 2½ Mile, Jalan Rock, Taman Timberland. Maka kami sudah memutuskan untuk menginap di penginapan Fullyin Inn saja karena berada di seberang jalan RS Timberland. Sebelumnya mama dan ciciku sudah pernah ke RS Timberland dan menginap di Fullyin Inn juga namun tidak ada jendela.

Sehingga kali ini kami pesan kamar untuk 4 orang dan berjendela.

Sesampainya kami di bandara internasional Kuching, kami naik taksi. Taksi di sana tidak suka menggunakan argo, sehingga kita perlu tawar-menawar terlebih dahulu. Menurut informasi yang saya dapat setelah browsing, ongkos kira-kira RM15 dengan jarak 6.4 km dan waktu perjalanan 10 menit. Setelah tawar-menawar, kami sepakat di harga RM20 – mungkin kemahalan. Di Kuching, taksi bertuliskan TEKSI, 4 penumpang, Kuching.

Karena kami belum makan malam, kami berharap kafe di bawah penginapan masih buka. Tapi ternyata sudah tutup karena kami tiba sudah sekitar 23.00 waktu setempat. Terpaksa deh makan roti dan pisang yang dibekali mama saja, kemudian tidur.

Kamar kami di samping resepsionis Fullyin Inn, jadi nyaman karena tidak akan ada suara berisik dari tetangga kamar dan hanya 1 kali naik tangga. Jendela pun besar yang bisa dibuka untuk hirup udara luar walau pemandangannya ke parkiran. Selain itu, ada TV LCD dengan antena dalam, sehingga hanya dapat TV lokal yang berjumlah 4 saluran dan tidak terlalu jernih gambarnya. Dalam kamar ada 1 kursi rotan, ada 1 AC, ada 2 lampu tidur, 1 lemari baju dengan gantungan baju,1 meja untuk minuman dengan termos air panas, 4 gelas plastik, dan 2 botol besar air putih, lantai berkeramik tanpa karpet / matras. Kamar mandi ada wastafel, kaca, kloset duduk, dan ember. Kran wastafel tidak berfungsi dengan baik, tidak ada shower, gayung menggunakan “ember ayam KFC”. Disediakan beberapa sabun kecil dan 2 botol air putih isi ulang 1liter. Handuk dapat dibeli di resepsionis. Kamar ini seharga RM80 per hari dengan waktu check out maksimal jam 14.00. Sedangkan jarak penginapan ke kota adalah sekitar 5.5 km dengan perkiraan waktu di perjalanan dengan mobil selama 9 menit. Lihat foto penginapan dan kamarnya sbb:

Rabu 15 Apr 2009, tentu saja orang tua kami ke RS untuk check up dari pagi hari. Sedangkan saya dan cici mencari kartu telepon seluler untuk digunakan selama di Kuching. Saya beli Maxis – Malaysia Axis, sedangkan cici beli DiGi. Maxis harganya RM8.80 dengan pulsa RM5.00, sedangkan DiGi RM8.50 dengan pulsa RM5.00. Jika DiGi isi pulsa saat pertama kali aktif maka kita akan dapat bonus telepon dan sms. Selain itu kedua kartu ini jika diisi ulang di hari ulang tahun kita maka kita dapat bonus juga, hanya saja jenis bonusnya berbeda untuk masing-masing kartu. Maxis bisa 3G sedangkan DiGi belum bisa 3G. Tapi dari sisi bonus dan kemurahan maka lebih baik menggunakan DiGi. Cek pulsa Maxis *122# sedangkan DiGi *126#. Untuk mengaktifkan 3G Maxis tekan *136#. Untuk telepon dengan harga lebih murah dengan Maxis ke Indonesia tekan 1320062xxxxxxxxxxx, contoh 1320062819xxxxxxxx. Nomor Maxis pasti dimulai dengan angka 12 sedangkan DiGi pasti diawali dengan angka 16. Seperti di Indonesia bukan?

Bahasa yang digunakan di Kuching sangat beragam, mereka bisa bahasa Melayu, Khecia, Tiao chu, Mandarin, dan bahkan bisa sedikit Inggris. Lihatlah tampang mereka dan tebak bahasa asli mereka, kalau tidak kita akan salah menggunakan bahasa. Perjalanan ke Kuching membuka mataku kalau saya perlu memperlancar bahasa Khecia dan Mandarinku lagi.

Pagi ini saya dan cici makan di Fullyin Kafé. Saya pesan wan tan (tulisannya) – mien thun (penjualnya bilang) – yang adalah pangsit. Sedangkan cici ku pesan Hand made mee (disana tulisan mie adalah mee) / Sou Kung Mien (mandarinnya). Kedua makanan ini berharga RM5.00. Wan tan-nya enak tapi hand made mee-nya kurang enak. Minumannya, kami pesan teh dingin dan hangat dengan total harga RM2.40. Di Kuching penjual makanan dan minuman akan berbeda seperti pujaseranya Indonesia saja.

Siangnya kita makan di Fullyin Café juga dengan menu Salad Chicken Rice RM5.00, Fried rice with salted fish RM4.50. Salad Chicken Rice itu ternyata Nasi, steak ayam, dan sawi putih yang di kasih mayonese – gak enak. Fried rice with salted fish masih mendingan, hanya saja asin.

Malamnya kami makan di seberang jalan depan RS Timberland. Penjual makannya hanya buka malam hari dan jalan akan dipenuhi dengan meja kursi dan penjual makanan. Papa dan mamaku membeli Ko Lo Mee. Sedangkan saya makan udang goreng asin, pau choi, dan 1 piring nasi, dengan total harga untuk makanan yang kupesan sendiri ini RM22.00. Dan 1 gelas teh hangat 90sen. Cukup boros untuk makan malam untuk sendiri L O ya, di Kuching tidak ada es jeruk, adanya es lemon atau es jeruk nipis😀

Jajanan sore di seberang depan jalan RS Timberland ada gorengan dengan harga RM1.00 / 5 gorengan selain pisang goreng, karena pisang goreng harganya RM1.00 / 3 buah. Rasanya enak.. Kalau Nestle Drumstick Kitkat harganya RM2.70 yang bisa dibeli di supermarket, enak juga. Sedangkan buah 1 porsi RM1.00. Semua “Yummy”.

Kamis 16 April 2009 – bertepatan dengan ulang tahunku, hari ini mesti jadi hari spesial untukku, pikirku. Pagi sampai siang mama dan papa sudah ke RS lagi. Jam 10-an saya beli 1 mangkok laksa besar dengan 1 gelas es susu kacang kedelai. 1 mangkok besar Laksa seharga RM4.00 sedangkan 1 mangkok kecil Laksa seharga RM3.50 di Kafé Fullyin Inn. Saya dan cici makan dan minum berdua J Karena masih agak kenyang. Kemudian jam 11an nunggu papa dan mama makan Laksa juga. Kuahnya enak tapi saying mienya keras dan kaku jadi kurang enak – beda banget deh sama Laksanya Indonesia.

Selesai makan kita mulai jalan-jalan dengan menggunakan taksi. Tadinya ingin naik taksi untuk ke museum Sarawak kemudian ke kota Kuching, sesuai dengan informasi tempat wisata di Internet. Eh supir taksinya malah nawarin jadi tour guide. Dia cukup pintar memberikan good first image, dengan banyak omong, kemampuan bahasa, dan perawakannya yang se-tua papa. Sehingga kami menggunakannya selama sehari itu. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Civic Centre. Dari sini kita dapat melihat seluruh Kuching, Sarawak dari ketinggian. Saat kami berkunjung banyak turis juga yang datang. Selanjutnya kami ke Sarawak Museum, kami keliling di Gedung Lama saja. Karena sedang hujan dan menurut supir di Gedung Baru hanya ada film dinosaurus dan perlu bayar untuk menontonnya, maka kami tidak ke Gedung Baru. Selanjutnya kami ke Main Bazar di Waterfront Sarawak River. Saat mulai menjelajah, mama malah lapar, sehingga kita beralih ke Top Spot Food Court untuk makan siang. Karena kupikir kita menjauh dari Main Bazaar dan dekat dengan patung Kucing, maka saya bilang mau ke patung Kucing. Di perjalanan kami pun sempat beli buah dan main ke Mall yang berbentuk kapal – dengan salah satu sisinya lancip seperti bagian depan kapal.

Pusat wisatanya sekitar Kuching Waterfront, dimana kita dapat ke Museum Sejarah Cina, Tua Pek Kong, Main Bazaar, Carpenter Street, dan Court House dengan jalan kaki saja. Saya tidak mau beranjak dari sana walau saya tidak dapat melihat matahari terbenam dengan Sarawak River Cruise – karena harganya yang mahal RM60/orang dewasa. Tapi saya masih mau berkeliling dan berharap dapat melihat matahari terbenam walau dari jalan Main Bazaar. Tadinya ingin papa dan mama diantar pulang duluan ke penginapan, tapi supir taksinya malah ingin jemput saya dan cici lagi yang akan menunggu matahari terbenam. Karena hujan rintik-rintik, saya benar-benar tidak dapat melihat matahari terbenam. Selesai berjalan-jalan dan belanja, kami pulang jam 18.00-an dan biaya taksi habis RM180 – dengan perhitungan waktu.

Kamis 17 April 2009, sebenarnya tidak keperluan ke RS. Tapi karena bingung mau ke mana juga, akhirnya kami ke RS menanyakan obatnya sudah dapat diambil belum dan minta rujukan ke dokter spesialis. Siang hari selama orang tua istirahat, saya menanyakan tempat wisata ke resepsionis. Seperti penduduk lokal umumnya kalau dimintai rekomendasi tempat jalan, pasti jawabannya Mall terdekat. Demikian pulalah jawaban resepsionis yang sebaya denganku itu. Di kala tanya jawab itu dilakukan, saya mencari peta daerah dekat dengan lokasi kami dan ternyata membuahkan hasil. Saya dan cici ke Boulevard Shopping Mall, Jalan Penrisson berbekal peta dari koran. Dalam perjalanan tersebut, kami melewati Lim Garden dan taman lainnya – ternyata Kuching punya banyak taman. Sesampainya di Mall, kami cukup berkeringat karena berjalan kaki. Mall-nya tidak terlalu besar dan sama seperti di Indonesia pasti ada Gramedia / Gunung Agung kemudian Matahari / Ramayana / Pojok Busana dan Handphone Center hanya saja namanya lain yaitu Popular dan Boulevard. Keunikannya tidak ada lobby dan pintu masuk, karena pintu masuknya harus dilalui dengan naik tangga satu kali ke atas dulu dan di lantai dasar depan itu ada kolam renang anak-anak lengkap dengan perosotannya. Unik kan? Setelah capek jalan-jalan di Mall, kami pulang berjalan kaki dalam keadaaan hujan rintik-rintik.

Nah malam ini, cici dan saya makan Claypot mee RM4.00, Ko lo mee, Yam Cha Kueh RM3.00, Lechee juice RM1.80, Apple juice RM3.00. Kupikir yam cha kueh itu makanan berat seperti mie, ternyata bukan, jadi pesan mie lagi deh. Yam cha kueh seperti tepung campur telur campur “cai poh” (sebutan Indonesia gak tahu). Besok paginya di hari kepulangan (Jum’at 18 April 2009), saya makannya thai char seuw pau RM1.70 dan susu kacang kedelai kaleng.

Setelah mama selesai dari RS, orang tua makan dan kita check out jam 14.00. Sambil menunggu waktu check in Bandara, kami charter taksi kemarin lagi. Kali ini kami ke Sunday Market, yaitu pasar yang buka hanya di Sabtu siang sampai Minggu. Mama membeli ubi ungu dan buah naga merah karena harganya yang lebih murah dibanding yang dijual di Indonesia. Sambil orang tua istirahat saya membeli makanan Pakistan, mirip roti cane hanya saja rotinya lebih keras, harganya RM1.50. Dari sana lanjut ke Taman Sahabat dan ke Everrise, depan Boulevard Shopping Mall untuk membeli ½ potong bebek panggang RM16.00 dan ½ potong bebek Ta Lu RM16.00. Seselesainya, kami makan malam di sana dan jalan ke bandara untuk check in. Pesawat Air Asia yang kami tunggu, terlambat datang sekitar 1 jam. Sehingga kami baru sampai Jakarta sekitar jam 1 malam. Malam hari taksi bandara lebih bersahabat karena bersedia menggunakan argo atau harga borongannya normal.

Kesan kami sekeluarga tentang Kuching adalah teratur dan nyaman berlalu lintas. Hal ini disebabkan setiap pengendara mobil sangat tertib dalam berkendara dan parkir. Jarak satu mobil dengan mobil lainnya saat macet pun masih tergolong jauh. Walau tidak ada lampu merah semua mobil akan berhenti jika mobil itu membelok dan membiarkan mobil-mobil dengan arah lurus lewat terlebih dahulu. Parkir pun benar-benar dalam garis parkir. Jumlah motor yang ada di jalan tidak lebih dari jumlah jari tangan kita. Penyebrang jalan harus menyebrang saat tidak ada mobil dan harus berlari sehingga mobil tidak perlu mengerem. Kalau di kota, penyebrang jalan harus menekan tombol lampu lalu lintas dan menyebrang saat lampu hijau penyebrangan menyala. Di sana tidak ada angkot, hanya ada bis jarak jauh atau mobil yang berwarna putih. Semua bis tidak akan berhenti di halte, jika tidak ada penumpang yang memberhentikan bis tersebut. Halte pun di letakkan menjorok lebih dalam 1 jalur mobil, sehingga bis yang berhenti tidak akan menghalangi mobil lain. Tiap bagian tangga dari bis selalu ada tulisan “Jangan berdiri di tangga”. Selain itu, sekalipun hujan, jalan raya tidak banjir tinggi dan membuat macet seperti di Jakarta. Satu hal lagi, Sarawak punya banyak taman umum yang dapat digunakan untuk jogging. Walau Kuching bukan kota besar, Jakarta perlu belajar tata kota terutama tentang transportasi daerah ini. Berikut saya foto kerapihan yang terlihat:

Terima kasih telah membaca dan silahkan memberi komentar.

4 thoughts on “KUCHING, SARAWAK

  1. kalo g ke kuching,selalu nginap di motel shangolila.dari padungan street pas dibelakang everise.dr harga yg u tulis,di motel shangolila jauh lebih murah.2 single bed,1 double bed,tv,lemari,meja rias,di wc lgkp bathtub,shower,closet du2k,wastafel 1malam cuma RM70.
    Makanan n minuman jg murah2.mo ke waterfont,sarawak plaza,tun jugah,parkson, tgl jalan kaki sktr 5-10 menit.pas di pusat kota de…kalo mkn keluarga paling enak di taman kereta.buka dr sore sampai malam.makan malam pas sblm matahari terbenam diantara gedung2 (karna lokasi di lantai 6) serunya di lantai 6 yg terbuka ini,ada kolam ikan n taman.n lapak yg jual makanan buanyak bgt.next time mesti coba ksana ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s