PLANETARIUM
17 January 2012 at 11:36 am | Posted in Jakarta | 2 CommentsTags: Jakarta, komet, meteor, planet, Planetarium, Taman Ismail Marzuki, tata surya, TIM, wisata
Planetarium terletak di Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat, yaitu yang beralamat di Jalan Cikini Raya No. 73. Di planetarium ini, kita dapat menyaksikan langit-langit di Planetarium yang menggambarkan langit bumi kita di malam hari yang dipenuhi bintang. Pertunjukan ini kita nikmati dalam ruangan yang seperti cinema dengan layarnya bukan di depan seperti halnya bioskop, tapi atas. Langit-langitnya yang berbentuk seperti kubah dan senderan tempat duduk yang dapat dimiringkan hingga hampir tertidur membuat kita benar-benar dapat menikmati pertunjukan di langit-langit planetarium. Selain itu, bahasa narator yang asyik dengan sedikit humor ringan benar-benar dapat mendinginkan suasana sehingga tidak terlalu serius dan berasa scientist sekali.
Di langit-langit planetarium kita dapat menikmati hamburan cahaya bintang yang menurut narator dapat kita nikmati di Jakarta jikalau tidak ada polusi udara dan polusi cahaya di kota Jakarta dan langitnya cerah. Tapi hal ini dirasa mustahil jika kita lihat kondisi Jakarta saat ini dan terlebih lagi saat musim hujan – karena saat kami menonton di Planetarium sedang musim hujan. Dalam durasi pertunjukan 1 jam tersebut, kita dibawa untuk menikmati langit Jakarta yang cerah di malam hari dan simulasi terbitnya matahari di ufuk timur hingga terbenamnya di ufuk barat. Pertunjukan juga menjelaskan mengenai meteor, komet, dan beberapa rasi bintang.
Salah satu meteor besar yang pernah jatuh di bumi adalah meteor yang jatuh di Amerika sekitar 49 tahun silam. Di planetarium juga kita dapat melihat batu meteor yang pernah jatuh di Pasuruan, Indonesia. Selain itu, kita dibawa ke galaxy untuk mempelajari planet-planet di tata surya dimana matahari sebagai pusat orbit planet-planet. Planet-planet di tata surya pun di kategorikan dalam tiga kategori, yaitu planet sejenis bumi, planet sejenis yupiter, dan planet kerdil. Melalui pertunjukan di planetarium ini pun saya baru mengetahui bahwa planet Pluto itu termasuk planet kerdil dan garis edar memotong garis edar planet lain yaitu planet Neptunus, sehingga tidak selamanya pluto menjadi planet yang terjauh dari bumi. Belajar banyaklah saya dari pertunjukan di Planetarium ini. Termasuk galaksi kita dengan pusat orbit matahari disebut galaksi Bima Sakti dan galaksi kita hanyalah satu dari sekian banyak galaksi di alam semesta.
Akhirnya, pertunjukan diakhiri simulasi petualangan mengarungi galaxi. Seolah-olah kita yang bergerak padahal kita masih ditempat dan hanya pertunjukan saja yang bergerak. Tapi petualangan ini mengakhiri pertunjukan dengan sangat berkesan, sehingga antrian yang panjang dan lama untuk membeli tiket di loket maupun antrian untuk menonton pertunjukan tidaklah percuma.
Saya dan teman-teman kos datang di hari terakhir libur sekolah natal dan tahun baruan, sehingga pengunjungnya banyak sekali dan antriannya panjang sekali. Selain itu, kami datang siang hari karena pagi hari kami ke Museum Joang 45 dulu. Banyaknya pengunjung yang datang menyebabkan penambahan 1 sesi pertunjukan pada hari itu dan kami termasuk di dalamnya, yaitu hari Sabtu jam 4 sore.
1 sesi pertunjukkan hanya tersedia 320 kursi sehingga jika sudah penuh kuota di sesi tersebut maka kita harus mengantri untuk jam di sesi berikutnya. Meski loket dibuka 1 jam sebelum pertunjukan tapi karena banyaknya pengunjung maka kita sudah mengantri dari waktu loket masih tutup dari waktu pertunjukan sesi sebelumnya. Jelasnya, kami antri dari jam 1 dan nonton pertunjukan jam 4 sore di hari Sabtu, tanggal 7 Januari 2012.
Jadwal Pertunjukan:
- Selasa – Jumat : setiap jam 16:30;
- Sabtu, Minggu dan Libur Nasional : setiap jam 10:00, 11:30, 13:00, dan 14:30;
- Hari Libur Nasional yang jatuh pada hari Jumat: Setiap : 10:00, 13:30, 15:00, 16:30;
- Senin : TUTUP untuk pemeliharaan;
Harga Tiket Masuk : Anak-anak Rp. 3,500; Dewasa Rp. 7,000
Setiap pengunjung hanya dapat membeli maksimal 6 karcis dan karcis yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan. Loket pun ditutup apabila tempat duduk yang tersedia habis terjual untuk sesi berikutnya.
Di saat hari libur, antrian di Planetarium menjadi panjang sekali, makanya tidak heran jika antrian loket disediakan tempat duduk yang disusun seperti labirin:
Setelah berhasil membeli tiket kita harus langsung antri pertunjukan supaya kita dapat memasuki teater segera dan memilih tempat duduk pertama kali. Saran saya pilihlah tempat duduk yang paling belakang jika Anda dapat memilih.
Akhir kata, bersyukurlah jika Anda tidak perlu mengantri panjang misal dengan datang pagi-pagi dan bukan hari libur sekolah atau libur nasional. Selamat menikmati pertunjukannya yang spektakuler
Baca juga blog saya tentang Gedung Joang 45 untuk tujuan wisata Anda karena lokasinya berdekatan dengan Planetarium.
Museum Joang 45
17 January 2012 at 11:35 am | Posted in Jakarta | Leave a commentTags: Gedung Joang 45, Jakarta, museum, pahlawan, perjuangan, REP
Museum Joang 45 adalah salah satu museum di Jakarta yang digunakan untuk mengenang peristiwa-peristiwa penting di dalam masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dalam museum ini terdapat koleksi benda-benda peninggalan para pejuang Indonesia antara lain mesin jahit semasa perang dulu, mobil dinas resmi Presiden dan Wakil Presiden RI Pertama yang dikenal dengan nomor mobil REP 1 dan REP 2. Selain itu ada pula koleksi foto-foto dokumentasi dan lukisan tokoh-tokoh perjuangan dan sejarah perjuangan sekitar tahun 1945-an. Beberapa tokoh perjuangan juga ditampilkan pula dalam bentuk patung-patung dada.
Museum ini terletak tidak jauh dari Tugu Tani. Kalau dari Jakarta utara atau monas maka museum ini setelah tugu tani dengan arah jalan menuju Cikini. Museum Joang 45 terletak di sebelah kiri jalan raya, tepat bersebelahan dengan Gedung Tedja dan Hotel Treva. Museum ini juga dapat dikunjungi melalui jalur kereta, stasiun kereta terdekat adalah stasiun Gondangdia.
Alamat Museum Joang 45 adalah Jl. Menteng Raya No. 31 Jakarta Pusat. Telp. (021) 3909148 Fax. (021) 3923185
Sejarah Gedong Joang 45
Pada tahun 1938, seorang pengusaha Belanda bernama LC Schomper mendirikan sebuah hotel yang bernama Schomper 1 di daerah Menteng Raya. Hotel ini dibangun khusus bagi pejabat tinggi Belanda, pengusaha asing, dan pejabat pribumi.
Ketika Jepang menjajah Indonesia, Hotel Schomper dikuasai oleh pemuda Indonesia dan dijadikan asrama dan tempat pendidikan nasionalisme para pemuda Indonesia. Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Adam Malik, Chaerul Saleh, dan sejumlah tokoh Indonesia lainnya merupakan tokoh-tokoh yang terlibat dalam pendidikan pemuda yang memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia. Pada masa ini Hotel Schomper 1 kemudian diganti dengan nama Gedung Menteng 31.
Seiring Perkembangan waktu pada tanggal 19 Agustus 1974, setelah melalui serangkaian perbaikan dan renovasi, Gedung Menteng 31 diresmikan sebagai Museum Joang 45 oleh Presiden Soeharto dan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin.
(Sumber: brosur Museum Joang 45)
Museum Joang 45 Buka dari Selasa s/d Minggu jam 09.00 – 15.00 WIB. Senin tutup.
Tiket Masuk Museum cukup murah yaitu:
Perorangan: Dewasa: Rp. 2.000,-
Mahasiswa: Rp. 1.000,-
Anak-anak: Rp. 600,-
Rombongan (minimal 20 orang):
Dewasa: Rp. 1.500,-
Mahasiswa: Rp. 750,-
Anak-anak: Rp. 500,-
Saat saya dan teman mengunjungi di hari Sabtu tanggal 7 Januari 2012, Museum Joang 45 sudah dan sedang melanjutkan renovasi sehingga layout dan peletakan koleksinya lebih cantik dan bagus juga untuk kita berfoto-foto di dalam :) Berfoto diijinkan asal menggunakan kamera HP atau Blackberry, asal bukan kamera digital saja.
Dekat Gedung Joang 45 ada lokasi wisata di Jakarta yang dekat yaitu Planetarium di Taman Ismail Marzuki. Baca juga blog saya tentang Planetarium.
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.





